kilasgaya.com | SURABAYA – Di tengah riuh kendaraan Jalan Kayoon dan lalu-lalang warga kota, ada aroma masa kecil yang tak lekang waktu: kue lekker. Gurih, renyah, dan manis, camilan legendaris ini kini punya wajah baru. Bukan dari produknya, tapi dari tampilannya.
Crown Prince Hotel Surabaya, hotel bintang empat yang dikenal dekat dengan isu lokal, resmi meluncurkan program dukungan branding UMKM dengan menggandeng Siswanto (38), penjual kue lekker kaki lima yang mangkal di depan SPBU Pertamina, Kayoon. Bukan sekadar memberi bantuan, pihak hotel mendesain ulang tampilan rombong motor Siswanto agar tampil lebih modern, menarik, dan punya identitas visual yang kuat.
“Bentuk dukungan kami adalah memberikan napas baru pada usaha jalanan yang selama ini menghidupi banyak keluarga. Kue lekker Pak Siswanto bukan hanya soal rasa, tapi juga soal cerita. Kami ingin ceritanya terlihat dan dikenang,” ujar Theo, Public Relations Crown Prince Hotel.

Siswanto, yang telah berjualan selama lebih dari satu dekade, tak mampu menyembunyikan rasa harunya. Rombong motor untuknya berjualan selama ini di-sulap oleh tangan-tangan kratif Crown Prince Hotel, diubahnya rombong tersebut menjadi lebih berwarna dan menarik hati pembeli.
“Saya kaget waktu ditawari. Awalnya pikir cuma dibantu spanduk. Tapi ternyata rombong saya dibuat ulang (rebranding), ada logo, warna, bahkan desainnya kayak punya merk sendiri. Jualannya jadi lebih percaya diri,” ujar Siswanto sambil membolak-balik adonan di wajan panasnya.
Rasa lekker yang ia racik tak pernah berubah. Masih setia pada cita rasa sederhana: pisang, meises, keju, tapi sentuhannya hangat dan otentik. Dengan tampilan baru ini, Crown Prince berharap usaha Siswanto bisa menjangkau lebih luas, khususnya kalangan muda yang visual-oriented namun rindu cita rasa klasik.
Kini Siswanto berjualan dengan ‘wajah’ baru rombongnya, berwarna kuning dengan sentuhan pop-art. Dalam waktu yang panjang, Crown Prince berencana untuk terus mendukung UMKM yang ada di Surabaya melalui rebranding pada rombong atau kios.
“Mungkin banyak calon penjual yang sudah tau rasanya (produk yang dijual), namun dengan sentuhan visual yang lebih baik & berkembang, pembeli tidak hanya membeli produk, namun juga brand & cerita dibalik (produk)-nya”, pungkas Theo. (acs)



