kilasgaya.com | SURABAYA – Salah satu jati diri & mungkin dapat terbilang juga ‘jargon’ dari suatu wilayah adalah warisan lokalnya, baik dari segi sandang, pangan & papan. Setiap wilayah di Indonesia memiliki makanan pokok yang serupa namun tidak sama. Misal dari Papua, Maluku & beberapa daerah di Sulawesi memiliki olahan papeda (olahan dari sagu) sebagai sumber karbohidrat & seratnya, kemudian di Jawa Timur dengan daun semanggi atau dengan nama lain Marsilea, yakni tumbuhan liar yang biasa ditemui di pematang sawah.
Meskipun liar, ada-pun petani semanggi yang hingga saat ini masih ‘bertransaksi’, dikarenakan minat dari pasar yang masih ada. Daun semanggi selain menjadi serat yang baik, terdapat manfaat lain yang cukup berdampak besar, mengobati infeksi saluran kencing hingga hepatitis menjadi salah satu kelebihannya.
Semanggi semacam erat hubungannya dengan kota Surabaya, seperti ikon. Selalu dan tanpa pikir panjang dalam benak masyarakat Jawa Timur, terlebih masyarakat Surabaya, daun semanggi akan menjadi olahan Semanggi Suroboyo, meskipun adapula olahan seperti yang di tumis dan masak kuah santan. Dengan daun semanggi sebagai bintangnya, saus kacang kental, tauge dan kerupuk puli, hidang sederhana Semanggi Suroboyo seolah recalling memories untuk masyarakat. Budidaya yang mudah untuk para petani karena memang dasarnya semanggi merupakan tumbuhan liar, rasa yang ‘asli’ & memiliki sejarah panjang untuk masyarakat Surabaya, menjadikan semanggi salah satu warisan Surabaya di bidang kuliner yang selalu akan ada peminatnya.

Sekaligus, dalam menayambut HUT Surabaya yang ke-730, Crown Prince Hotel menyuguhkan sessional menu yang terlah terkurasi oleh Crown Prince Hotel Executive Chef, Fridinal. Chef Fridinal dalam kesempatan ini menghidangkan beberapa masakan khas Surabaya, seperti rawon, lontong balap, rujak cingur & semanggi.
“Semanggi itu tidak lekang waktu, sama seperti menu-menu lainnya. Pasti ada yang (suka) makan ini (menu-menu tersebut)”, ujar pria 50 tahun tersebut yang biasa dipanggil Frid atau Chef Frid.
Fridinal tidak semerta-merta karena momentum ulang tahun Surabaya saja saat menu tersebut di-launching, namun Ia memiliki memori lain yang ingin Ia bagikan ke masyarakat.
“Meskipun saya lahir di Sulawesi, tapi saya besar di Surabaya. Roso Suroboyo akan selalu ada untuk saya, makanya saya mau bagi (melalui menu tersebut kepada masyarakat)”, pungkasnya dalam sesi tanya jawab launching menu 28 April lalu.
Selama satu bulan penuh Crown Prince Hotel akan menjadikan hidangan Roso Suroboyo, mengembalikan memori rasa, seperti halnya Chef Frid yang ingin mengajak nostaligia bersama melalui hidangan tersebut.
“Surabaya kuat dari rasa (masakan), berkarakter & serunya adalah banyak yang suka, tidak selalu hanya warga Surabaya ‘tok yang cocok”, ungkapnya sambil terbahak kecil.(acs)



